UNIVERSITAS GUNADARMA

Thursday, 18 January 2018

AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI (TSI) PADA LINGKUNGAN WORKGROUP/ENTERPRISE

AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI (TSI)
 PADA LINGKUNGAN WORKGROUP/ENTERPRISE

Audit teknologi informasi (Inggris: information technology (IT) audit atau information systems (IS) audit) adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dariinfrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh.

Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan audit finansial danaudit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan evaluasi lain yang sejenis.

Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit pemrosesan data elektronik, dan sekarang audit teknologi informasi secara umum merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan sistem informasi dalam perusahaan itu. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit komputer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah aset sistem informasi perusahaan itu telah bekerja secara efektif, dan integratif dalam mencapai target organisasinya.

Tujuan audit sistem informasi secara teknis yaitu:

  1. Evaluasi atas kesesuaian antara rencana strategis dengan rencana tahunan organisasi,rencana tahunan dan rencana proyek.
  2. Evaluasi atas kelayakan struktur organisasi yaitu termasuk pemisahan fungsi dan kelayakan pelimpahan wewennang dan otoritas.
  3. Evaluasi atas pengelolahan personil yaitu termasuk perencanaan kebutuhan, rekrutmen dan seleksi, pelatihan dan pendidikan, promosi,mutasi, serta terminasi personil.
  4. Evaluasi atas pengembangan yaitu termasuk analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, pengujian, implementasi, migrasi, pelatihan dan dokumentasi, serta manajemen perubahan.
  5. Evaluasi atas kegiatan operasional yaitu termasuk pengelolaan keamanan dan kenerja pengelolaan pusat data, pengelolaan keamanan dan kenerja jaringan data, pengelolaan masalah dan insiden serta dukungan pengguna.
  6. Evaluasi atas kontinuitas layanan yaitu termasuk pengelolaan backup dan recovery, pengelolaan prosedure darurat, pengelolaan rencana pemulihan layanan, serta pengujian rencana kontijensi operasional.
  7. Evaluasi atas kualitas pengendalian aplikasi yaitu termasuk pengendalian input, pengendalian proses dan pengendalian output.
  8. Evaluasi atas kualitas data/informasi yaitu termasuk  pengujian atas kelengkapan dan akurasi data yang dimasukkan, diproses, dan dihasilkan oleh sistem informasi.

  
KONSEP AUDIT TSI

Perencanaan (Planning)
Tahap perencanaan ini yang akan dilakukan adalah menentukan ruang lingkup (scope), objek yang akan diaudit, standard evaluasi dari hasil audit dan komunikasi dengan managen pada organisasi yang bersangkutan dengan menganalisa visi, misi, sasaran dan tujuan objek yang diteliti serta strategi, kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pengolahan investigasi.

Perencanaan meliputi beberapa aktivitas utama, yaitu:

·                     Penetapan ruang lingkup dan tujuan audit
·                     Pengorganisasian tim audit
·                     Pemahaman mengenai operasi bisnis klien
·                     Kaji ulang hasil audit sebelumnya
·                     Penyiapan program audit

Pemeriksaan Lapangan (Field Work)
Tahap ini yang akan dilakukan adalah pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan pihak-pihak yang terkait. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapan berbagai metode pengumpulan data yaitu: wawancara, quesioner ataupun melakukan survey ke lokasi penelitian.
Pelaporan (Reporting)
Setelah proses pengumpulan data, maka akan didapat data yang akan diproses untuk dihitung berdasarkan perhitungan maturity level. Pada tahap ini yang akan dilakukan memberikan informasi berupa hasil-hasil dari audit. Perhitungan maturity level dilakukan mengacu pada hasil wawancara, survey dan rekapitulasi hasil penyebaran quesioner. Berdasarkan hasil maturity level yang mencerminkan kinerja saat ini (current maturity level) dan kinerja standard atau ideal yang diharapkan akan menjadi acuan untuk selanjutnya dilakukan analisis kesenjangan (gap). Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kesenjangan (gap) serta mengetahui apa yang menyebabkan adanya gap tersebut.
Tindak Lanjut (Follow Up)
Tahap ini yang dilakukan adalah memberikan laporan hasil audit berupa rekomendasi tindakan perbaikan kepada pihak managemen objek yang diteliti, untuk selanjutnya wewenang perbaikan menjadi tanggung jawab managemen objek yang diteliti apakah akan diterapkan atau hanya menjadi acuhan untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

PROSES AUDIT TSI
Proses Audit dalam konteks teknologi informasi adalah memeriksa apakah sistem informasi berjalan semestinya. Tujuh langkah proses audit sistem informasi yaitu:

  1. Implementasikan sebuah strategi audit berbasis manajemen resiko serta control practice yang dapat disepakati oleh semua pihak
  2. Tetapkan langkah-langkah audit yang rinci
  3. Gunakan fakta atau bahan bukti yang cukup, handal, relevan, serta bermanfaat
  4. Buat laporan beserta kesimpulan berdasarkan fakta yang dikumpulkan
  5. Telaah apakah tujuan audit tercapai
  6. Sampaikan laporan kepada pihak yang berkepentingan
  7. Pastikan bahwa organisasi mengimplementasikan managemen resiko serta control practice.
 Perencanaan sebelum menjalankan proses audit dengan metodologi audit yaitu:
  • Audit subject
  • Audit objective
  • Audit Scope
  • Preaudit planning
  • Audit procedures and Steps for data gathering
  • Evaluasi hasil pengujian dan pemeriksaan
  • Audit report preparation

Berikut struktur isi laporan audit secara umumnya (tidak baku):
  1. Pendahuluan
  2. Kesimpulan umum auditor
  3. Hasil audit
  4. Rekomendasi
  5. Exit interview

Pada dasamya, struktur audit adalah sama, hal yg membedakan adalah spesific taskspada tiap tahap audit yg menggambarkan kebutuhan dari masing-masing audit.
Scr umum, struktur audit terdiri atas:
1.   Tahap-tahap audit
2.   Elemen masing-masing tahap audit
3.   Tujuan umum masing-masing elemen &
4.   Tugas-tugas ttt yg diperlukan utk mencapai setiap tujuan

Audit kinerja merupakan perluasan dari audit keuangan dlm hal tujuan & prosedumya.  Berdasarkan kerangka umum struktur audit di atas, dapat dikembangkan struktur audit kinerja yg terdiri atas:
1.   familiarization and planning phase
2.   audit phase
3.   reporting phase
4.   follow-up phase

TAHAP PENGENALAN & PERENCANAAN
Tahap pengenalan & perencanaan terdiri dr dua elemen:
  •  survei pendahuluan, bertujuan utk menghasilkan research plan yg detail yg dpt membantu auditor dlm mengukur kinerja
  • review SPM, bertujuan utk mengembangkan temuan berdsrkan perbandingan antara kinerja & kriteria yg telah ditetapkan sblmnya.

Preliminary Survey
Auditor akan berupaya utk memperoleh gambaran yg akurat ttg lingkungan organisasi yg diaudit, terutama berkaitan dengan :
  •        struktur & operasi organisasi
  •        lingkungan manajemen
  •       kebijakan, standar & prosedur kerja

Deskripsi tsb akan membantu auditor utk:
  •        menentukan tujuan audit & rencana audit scr detail
  •        memanfaatkan sumber daya yg ada utk hal-hal yg sifatnya material
  •        mendisain tugas scr efisien & menghindari kesalahan

Control System Review
  • Pd audit keuangan, audit dimulai dg review & evaluasi thdp SPI terutama yg berkaitan dg prosedur akuntansinya
  • Pd audit kinerja, auditor hrs menelaah SPM utk menemukan kelemahan pengendalian yg signifikan agar menjadi perhatian manajemen & utk mettkan luas, sifat & waktu pekerjaan pemeriksaan berikutnya
  • SPM memberikan gambaran ttg metoda & prosedur yg digunakan oleh organisasi utk mengendalikan kinerjanya
  • Pengendalian manajemen bertujuan utk memastikan bhw tujuan organisasi dicapai scr ekonomis, efisien, & sesuai dg hukum & peraturan yg berlaku.

Tiga langkah prosedur audit yg dilakukan pd review sistem pengendalian:
1.    Menganalisis sistem manajemen organisasi
2.    Membandingkannya dg model yg ada.
3.    Mencatat dugaan thdp setiap ketidakcocokan/ketidaksesuaian
Pertanyaan yg diajukan auditor pada tahapan ini:
1.    Apakah organisasi membuat perencanaan  yg cukup? Apakah strategi utk mencapai tujuan telah ditetapkan? Apakah standar pencapaian tujuan juga telah ditetapkan?
2.    Apakah organisasi sudah terstruktur dengan baik untuk menjalankan aktivitasnya? Apakah sumber daya sudah tersedia dan terdistribusi dengan baik?
3.    Apakah rencana sudah dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab untuk melaksanakan?
4.    Apakah kinerja telah dimonitor dengan menggunakan dasar/kriteria yang pasti? Apakah penyimpangan dari rencana semula diidentifikasi dan dianalisis dengan hati-hati? Apakah tindakan koreksi yang tepat waktu telah dilaksanakan?
Kriteria penilaian reliabilitas data dibagi dalam dua area, yaitu:
1.    Proses pengumpulan, perhitungan, dan pelaporan data
1.    Prosedur yang ada didisain untuk memastikan fairness, dependability, &reliability data.
2.    Terdapat pengendalian dalam proses pengumpulan dan penghitungan data untuk memastikan integritas data.
3.    Pengendalian yang telah ditetapkan sudah dijalankan.
4.    Terdapat dokumentasi yang memadai untuk menentukan integritas data.
5.    Kecukupan pelaporan data

1.    Data yang dikumpulkan dan dihitung, dibuat dengan dasar yang konsisten dengan tahun sebelumnya
2.    Kewajaran dan reliabilitas data disajikan dengan kriteria tertentu
Audit pada tahap pengenalan dan perencanaan mempersiapkan dokumen:
1.    Analitical memorandum berisi identifikasi kelemahan yang material dalam sistem pengendalian manajemen dan pembuatan rekomendasi untuk perbaikan atas kelemahan tersebut
2.    Planning memorandum dibuat berdasarkan hasil review sistem pengendalian untuk menentukan sifat, luas, dan waktu pekerjaan audit berikutnya
Indikator kinerja dapat membantu pemakai laporan dalam menilai kinerja organisasi yang diaudit.

TAHAPAN AUDIT

Tahapan dalam audit kinerja terdiri dari tiga elemen, yaitu:
1.    program results review
2.    economy and efficiency review
3.    compliance review

Komponen audit adalah

1.    identifikasi lingkungan manajemen
2.    perencanaan dan tujuan
3.    struktur organisasi
4.    kebijakan dan praktik
5.    sistem dan prosedur
6.    pengendalian dan metodanya
7.    sumber daya manusia dan lingkungan fisik
8.    praktik pengelolaan staf
9.    analisis fiskal
10.  area khusus investigasi

TAHAPAN PELAPORAN

Laporan tertulis bersifat permanen dan sangat penting untuk akuntabilitas publik. Hal terpenting bahwa laporan tersebut dapat dipahami oleh pihak-pihak yang menerima dan membutuhkan.
Tiga langkah pengembangan laporan audit, yaitu:
1.    preparation
2.    review
3.    transmission
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan laporan adalah:
1.    laporan audit kinerja harus ditulis secara objektif
2.    auditor tidak boleh overstate
3.    informasi yang disajikan harus disertai suatu bukti yang kompeten
4.    auditor hendaknya menulis laporan secara konstruktif, memberikan pengakuan terhadap kinerja yang baik maupun yang buruk
5.    auditor hendaknya mengakomodasi usaha-usaha yang dilakukan oleh manajemen untuk memperbaiki kinerjanya
Keahlian yang perlu dimiliki dan dikembangkan oleh auditor agar menghasilkan laporan yang efektif adalah:
1.    Keahlian teknis
Keahlian yang dibutuhkan untuk mengorganisasikan atau menyusun informasi audit menjadi sebuah laporan yang koheren
2.    Keahlian manajerial
Keahlian yang dibutuhkan untuk merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengendalikan masing-masing tahap audit untuk memastikan hasil akhir yang berkualitas dan tepat waktu.
3.    Keahlianinterpersonal
Keahlian untuk menjaga hubungan baik dengan auditee, kemampuan untuk menyampaikan temuan-temuan negatif menjadi kesempatan-kesempatan positif sehingga mampu meyakinkan manajemen atas potensi-potensi yang ada.
Kekhususan laporan audit kinerja terletak pada rekomendasi untuk perbaikan

Sistematika laporan audit kinerja, terdiri atas:
1.    Pendahuluan
2.    Umum
3.    Surat pengiriman atau memorandum
4.    Laporan ringkasan
5.    Daftar isi laporan secara keseluruhan
6.    Daftar tabel dan gambar
7.    Teks
8.    Pendahuluan
9.    Body atau badan, mencakup:
1)       Pengantar masalah (jika perlu)
2)       Temuan-temuan
3)       Kesimpulan dan rekomendasi
1.    Komentar auditee
2.    Referensi Masalah
3.    Footnotes
4.    Lampiran
5.    Bibliografi
6.    Komentar auditee (jika tidak dimasukkan ke dalam teks)
7.    Bahan referensi

Langkah-langkah dalam mengembangkan sebuah laporan audit adalah:
1.    Menyiapkan temuan-temuan secara individual
2.    Mengumpulkan semua referensi yang diperlukan untuk mendukung teks
3.    Menyiapkan teks
4.    menyiapkan laporan inti
5.    menyiapkan memorandum pengiriman laporan
Temuan audit merupakan building blocks laporan audit, maksudnya bahwa temuan audit akan disajikan secara tertulis  sesuai dengan permasalahan yang relevan dan material yang ditemukan selama audit, yang mencakup argumen yang logis & komplit dan didukung oleh bukti-bukti yang cukup.


TAHAP PENINDAKLANJUTAN (FOLLOW UP)
Tindak lanjut didisain untuk memastikan/memberikan pendapat apakah rekomendasi auditor sudah diimplementasikan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap penindaklanjutan dari sisi auditor adalah:
1.    Dasar untuk melakukan follow up adalah perencanaan yang dilakukan oleh pihak manajemen
2.    Pelaksanaan review follow up
3.    Batasan review follow up
4.    Implementasi rekomendasi :
a)    Implementasi oleh unit kerja
b)   Implementasi oleh eksekutif
c)    Peranan auditor dalam implementasi rekomendasi audit (auditor hanya berperan sebagai pendukung)
d)   Peranan legislatif dalam implementasi rekomendasi audit (merupakan otoritas tingkat akhir yang dapat mengambil tindakan implementasi rekomendasi secara formal dengan mengadopsi peraturan, mosi, dlsb.)
Beberapa pendekatan implementasi rekomendasi oleh legislatif yaitu
·         Tindakan legislatif secara formal
·         Tindakan legislatif secara informal
·         Tindakan legislatif melalui anggaran
5. Pemeriksaan kembali secara periodik

Sumber : https://fakihwidiatmoko.wordpress.com/2013/02/26/proses-tahapan-audit/

AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI LINGKUNGAN WORKOUTGROUP/ENTERPRISE INFORMATION SYSTEM PADA PERUSAHAAN PT. MITRA INTI BERSAMA

AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI LINGKUNGAN WORKOUTGROUP/ENTERPRISE INFORMATION SYSTEM PADA PERUSAHAAN PT. MITRA INTI BERSAMA

1.   Nama Perushaan / Organisasi

PT. Mitra Inti Bersama

2.   Profil Perusahaan (Penjelasan Secara Singkat) :

PT. Mitra Inti Bersama adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang teknologi solution pada lingkungan erterprise atau B2B, Berlokasi di Jakarta Barat perusaahn ini menjalankan perusahaan nya pada tahap perancangan arsitektur teknologi.

3.   Pertanyaan Tentang Perusahaan

Ø  Produk apa saja yang ditawarkan oleh perusahaan?

Jawab : Perusahaan melakukan penawaran untuk pembuatan dan instalasi semua   kebutuhan software maupun arsitektur jaringan pada perusahaan lain.

Ø  Sistem keamanan seperti apa yang digunakan?

Jawab : Perusahaan ini menggunakan proteksi Firewall 2 layer yang dapat menangkal gangguan-gangguan dari luar yang dapat menggangu aktivitas perusahaan dan keamanan data pegawai.

Ø  Seperti apa topologi jaringan yang digunakan?

Topologi jaringan yang digunakan adalah topologi Star yang membagi tiap bagian menjadi 4 Station, hal ini digunakan untuk menghindari terbentur nya aliran data pada setiap station.

Ø  Sistem Operasi apa yang digunakan pada setiap komputer?

Jawab : Untuk setiap komputer administrasi menggunakan Sistem Operasi Windows 7 Ultimate, Tetapi pada komputer yang digunakan untuk manangani server, digunakan Sistem Operasi Linux.

Ø  Apakah ada kendala pada user atau karyawan yang menggunakan sistem operasi yang
diterapkan oleh perusahaan? Jika Ya, jelaskan kendala yang dialami.
Jawab : Ya, terkadang ada kendala Slow Respon dalam Sistem operasi komputer ketika ketika menggunakan program berat.



Ø  Seperti apa media penyimapanan yang digunakan pada perusahaan?

Jawab : Untuk penyimpanan menggunakan Hardisk 1 Terabyte pada setiap server, media penyimpanan ini untuk menyimpan data perusahaan maupun data client.

Ø  Tipe jaringan apa yang digunakan? LAN, MAN, atau WAN?

Jawab : Menggunakan tipe jaringan LAN (Local Area Network) untuk menangani pegawai dalam menggunakan resource yang tersedia, seperti Printer maupun Telephone.


Ø  Apakah pada perusahaan rutin dilakukan maintenance pada bagian jaringan maupun sistem? Jika Ya, bagaiaman penjadwalannya?

Jawab : Proses maintenance dilakukan setiap 1 bulan sekali untuk memastikan keamanan maupun kinerja pada sistem perusahaan.


Ø  Apakah perushaan memiliki karyawan teknisi pada bagian jaringan, atau menggunakan jasa pihak ketiga?

Jawab : Ya, ada 2 karyawan. 1 karyawan yang bertugas menangani server dan jaringan, kemudian 1 karyawan bertugas menangani dan memastikan setiap perangkat komputer yang digunakan dapat berjalan dengan baik.

Ø  Software Database apa yang digunakan untuk menyimpan data perusahaan maupun pegawai?

Jawab : Perusahaan menggunakan software database dari Oracle yang bekerja pada sistem Cloud.


Kesimpulan pada Audit Sistem Informasi

Sistem Operasi
Sistem Operasi yang digunakan pada perusahaan dibagi menjadi 2, yaitu sistem operasi pada server maupun client yang menggunakan Linux dan Windows 7.

PenyimpananMedia penyimpanan yang digunakan cukup besar pada perusahaan ini, karna data pegawai yang tidak terlalu banyak.

Jaringan
Sistem jaringan yang digunakan pada 
Perusahaan adalah LAN dan koneksi internet dengan ISP yang telah dipilih. Dengan menggunakaan topologi STAR. Biasanya maintenance dilakukan sebulan sekali dan dilakukan dengan bantuan 2 karyawan sebagai teknisi jaringan dan komputer.
Berikut adalah Desain Struktur jaringan yang digunakan pada perusahaan :


Saturday, 23 December 2017

AUDIT SISTEM INFORMASI


Istilah EDP-Audit (electronic data processing audit), atau computer audit, kini lebih sering disebut dengan audit sistem informasi (information systems audit). Pada awalnya EDP audit dilakukan hanya dalam rangka audit laporan keuangan. Dalam perkembangannya kemudian, karena pentingnya dan makin besarnya investasi dalam TI. Organisasi perusahaan makin merasakan perlunya audit operasional terhadap fungsi TI-nya. Maka secara umum audit sistem informasi dimaksudkan untuk mengavaluasi tingkat kesesuaian antara sistem informasi dengan prosedur bisnis (bisnis processes) perusahaan (atau kebutuhan pengguna, user needs), untuk mengetahui apakah suatu sistem informasi telah didesain dan diimpilmentasikan secara efektif, efisien, dan ekonomis, memiliki mekanisme pengamanan aset, serta menjamin integritas data yang memadai.
Audit SI berbasis teknologi informasi dapat digolongkan dalam tipe atau jenis-jenis pemeriksaan :
  1. Audit laporan keuangan (general audit on financial). Dalam hal ini audit terhadap aspek-aspek teknologi informasi pada suatu sistem informasi. akuntansi berbasis teknologi informasi adalah dilaksanakan dalam rangka audit keuangan.
  2. Audit sistem informasi (SI) sebagai kegiatan tersendiri, terpisah dari pada keuangan. Sebetulnya audit SI pada hakekatnya salah satu dari bentuk audit operasional, tetapi kini lebih dikenal sebagai satu satuan jenis audit tersendiri yang tujuan utamanya lebih untuk meningkatkan IT governance.



Metode Audit
Proses audit system informasi dengan system manual pada dasarnya adalah sama. Yang membedakannya hanya auditing manual tidak menggunakan computer sedangkan auditing system informasi didalam pemrosesan transaksi menggunakan computer. Ada tiga metode utama terhadap auditing berdasarkan computer, yaitu :
A. Audit Around the Computer (Audit di sekitar Komputer).
Audit Around the Computer merupakan suatu pendekatan audit dimana auditor memperlakukan computer sebagai black box, artinya pemrosesan aplikasi tidak diuji secara langsung. Metode ini hanya berfokus pada input dan output dari system aplikasi. Metode ini mengansumsikan jika input benar dan outpun benar, maka prosesnya dianggap benar.
Sedangkan menurut Weber Audit Around the Computer merupakan audit terhadap suatu penyelenggaraan system informasi yang berbasis computer tanpa menggunakan kemampuan peralatan itu sendiri.
Biasanya Audit Around the Computer dilakukan oleh auditor yang memiliki pengetahuan yang minim tentang computer. Metode Audit Around the Computer ini cocok untuk dilaksanakan pada kondisi sebagai berikut :

  • Dokumen sumber tersedia dalam bentuk kertas (bahasa non mesin), artinya mash kasat mata dan dapat dilihat secara visual.
  • Dokumen-dokumen disimpan dalam file dengan cara yang mudah ditemukan.
  • Keluaran dapat diperoleh dari daftar yang terinci dan auditor mudah menelusuri setiap transaksi dari dokumen sumber kepada keluaran dan sebaliknya.
  • System computer yang diterapkan masih sederhana.
  • System computer yang diterapkan masih menggunakan software yang umum digunakan, telah diakui dan digunakan secara massal.


Dalam pendekatan audit disekitar komputer, auditor dapat melangkah kepada perumusan pendapat dengan hanya menelaah struktur pengendalian dan melaksanakan pengujian transaksi dan prosedur verifikasi saldo perkiraan dengan cara yang sama seperti dalam sistem manual bukan sistem informasi berbasis komputer. Auditor tidak melakukan upaya untuk menguji pengendalian sistem informasi berbasis komputer klien, tetapi terhadap input serta output sistem aplikasi. Dari penilaian terhadap kualitas input dan output sistem aplikasi ini , auditor dapat mengambil kesimpulan tentang kualitas pemrosesan data yang dilakukan klien. Oleh karena itu auditor harus dapat mengakses ke dokumen sumber yang cukup dan daftar keluaran (output) yang terinci dalam bentuk yang dapat dibaca. Kuncinya adalah penelusuran transaksi terpilih mulai dari dokumen sumber sampai ke perkiraan dan laporan keuangan. Untuk menerapkan metode ini, pertama auditor meninjau dan menguji pengendalian masukan (input control), kemudian menghitung hasil yang diharapkan dari pemrosesan transaksi yang terpilih lalu auditor membandingkan hasil sesungguhnya seperti yang tampak dalam laporan ikhtisar saldo perkiraan, dengan hasil yang dihitung secara manual.
Kelebihan dan kelemahan Audit Around the Computer adalah sebagai berikut :
Kelebihan :
1.     Pelaksanaan audit lebih sederhana.
2.     Auditor yang memiliki pengetahuan minimal di bidang komputer dapat dilatih dengan mudah untuk melaksanakan audit.

Kelemahan :
Kelemahannya adalah jika kondisi (user requirements) berubah, mungkin sistem itupun perlu diredesain dan perlu penyesuaian (update) program-program, bahkan mungkin struktur data/file, sehingga auditor perlu menilai/menelaah ulang apakah sistem masih berjalan dengan baik.

B. Audit Through The Computer. 
Metode Audit Through The Computer merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada computer dengan membuka black box dan secara langsung berfokus pada operasi pemprosesan dalam system computer. Metode ini berasumsi bahwa apabila system pemrosesan mempunyai pengendalian yang memadai maka kesalahan dan penyalagunaan tidak akan terlewat untuk dideteksi. Sebagai akibatnya keluaran dapat diterima.
Sedangkan menurut Weber, pada umumnya para auditor sekarang terlibat dalam Audit Through The Computer. Auditor menggunakan komputer untuk menguji logic dan pengendalian yang ada dalam komputer dan catatan yang dihasilkan oleh komputer. Besar kecilnya penggunaan (peranan) komputer dalam audit tergantung pada kompleksitas dari sistem komputer perusahaan yang diaudit. Penggunaannya dapat sederhana atau lebih rumit. Selain itu auditor juga dapat meminta penjelasan dari para teknisi computer mengenai spesifikasi system dan atau program yang diperiksanya. Dalam pendekatan ini fokus perhatian auditor langsung pada operasi pemrosesan di dalam sistem komputer.
Tujuan dari Audit Through The Computer adalah untuk meneliti apakah aplikasi yang dioperasikan sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya. Selain itu Audit Through The Computer dapat juga dilakukan untuk meneliti kelengkapan dan kebenaran akurasi dan validasi database atau penelitian software datanya.
Metode Audit Through The Computer harus digunakan apabila metode Audit Around The Computer tidak cocok atau tidak mencukupi. Jadi metode Audit Through The Computer ini harus diterapkan bila pemrosesan computer rumit dan melibatkan banyak file. Metode Audit Through The Computer ini dapat diterapkan bersama dengan metode Audit Around The Computer untuk memberikan kepastian yang lebih besar.
Metode Audit Through The Computer cocok dalam kondisi :
  1. Sistem aplikasi memroses input yang cukup besar dan menghasilkan output yang cukup besar pula, sehingga memperluas audit untuk meneliti keabsahannya.
  2. Bagian penting dari struktur pengendalian intern perusahaan terdapat di dalam komputer yang digunakan.
  3. Sistem logika komputer sangat kompleks dan memiliki banyak fasilitas pendukung
  4. Adanya jurang yang besar dalam melaksanakan audit secara visual, sehingga memerlukan pertimbangan antara biaya dan manfaatnya. 

Kelebihan dan kelemahan Audit Through The Computer adalah sebagai berikut:
Kelebihan :
  1. Dapat meningkatkan kekuatan pengujian system aplikasi secara efektif.
  2. Dapat memeriksa secara langsung logika pemrosesan dari system aplikasi.
  3. Kemampuan system dapat menangani perubahan dan kemungkinan kehilangan yang terjadi pada masa yang akan datang.Auditor memperoleh kemampuan yang besar dan efektif dalam melakukan pengujian terhadap system computer.
Kelebihan dan kelemahan Audit Through The Computer adalah sebagai berikut:

Kelebihan :
  1. Dapat meningkatkan kekuatan pengujian system aplikasi secara efektif.
  2. Dapat memeriksa secara langsung logika pemrosesan dari system aplikasi.
  3. Kemampuan system dapat menangani perubahan dan kemungkinan kehilangan yang terjadi pada masa yang akan datang.
  4. Auditor memperoleh kemampuan yang besar dan efektif dalam melakukan pengujian terhadap system computer.
  5. Auditor merasa lebih yakin terhadap kebenaran hasil kerjanya.
Kekurangan :
  1. Biaya yang dibutuhkan relative tinggi karena jumlah jam kerja yang banyak untuk dapat lebih memahami struktur pengendalian intern dari pelaksanaan system aplikasi.
  2. Butuh keahlian teknis yang lebih mendalam untuk memahami cara kerja system.


C. Audit With The Computer.
Audit dengan komputer untuk kegiatan pendukung dan administrasi paling sering digunakan, bahkan meskipun sistem klien yang diaudit telah berbasis komputer. Selain untuk kegiatan administratif, penyusunan program audit dan kuesioner serta pencatatan-pencatatan dan pelaporan hasil audit, komputer biasanya juga digunakan oleh auditor atau pegawai perusahaan klien untuk melakukan analisis atau pengikgtisaran, pembuatan grafik dan tabel-tabel tentang hasil audit, sertapemaparan atau presentasi hasil audit (misalnya dengan Microsoft Word, PowerPoint, dan Excel).
Perangkat lunak audit dapat digolongkan sebagai berikut :
  1. Perangkat lunak audit terspesialisasi (SAS), yaitu satu atau lebih program khusus yang dirancang oleh auditor agar sesuai dengan situasi audit. Perangkat lunak audit terspesialisasi ini jarang digunakan karena penyiapannya memakan waktu, mahal dan diperlukan keahlian computer yang sangat besar pada pihak auditor.
  2. Perangkat lunak audit tergeneralisasi (GAS), yaitu seperangkat program yang dapat diterapkan pada berbagai perusahaandan situasi audit. Generalized Audit Software (GAS) biasanya dikembangkan oleh perusahaan perangkat lunak atau pabrikan computer. Kelebihan pada perangkat lunak audit tergeneralisasi ini adalah auditor pemakai tidak perlu memiliki pengetahuan dalam pemprograman karena paket GAS biasanya dirancang agar mudah digunakan dan disesuaikan  dengan bahasa dan kebutuhan auditor. Sedangkan kelemahan pada perangkat lunak audit tergeneralisasi ini adalah upaya dan biaya pengembangannya tentu relative besar dan mungkin memerlukan keahlian yang memadai karena antara lain software tersebut harus dirancang untuk digunakan secara luwes untuk berbagai perusahaan dan berbagai tipe testing. Selain itu juga karena software ini bersifat tergeneralisasi maka tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan spesifik tiap auditor secara individu karena bagaimanapun produk tersebut bersifat paket.


Dalam metode Audit With Computer terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk auditor dalam melaksanakan prosedur audit, antara lain :
  1. Memproses atau melakukan pengujian dengan system computer klien itu sendiri sebagai bagian dari pengujian pengendalian atau subtantif.
  2. Menggunakan computer untuk melaksanakan tugas audit yang terpisah dari catatan klien yaitu mengambil copy data, file atau program milik klien untuk diuji dengan computer lain(di kantor auditor).
  3. Menggunakan computer sebagai alat bantu dalam audit sebagai software bantu audit dan sebagai alat pendukung kegiatan audit.


Tahap-tahap Audit Sistem Informasi Audit Sistem Informasi dapat dilakukan dengan berbagai macam tahap-tahap. Tahap-tahap audit terdiri dari 5 tahap sebagai berikut :
1. Tahap pemeriksaan pendahuluan 
2. Tahap pemeriksaan rinci
3. Tahap pengujian kesesuaian
4. Tahap pengujian kebenaran bukti
5. Tahap penilaian secara umum atas hasil pengujian

Tahap Pemeriksaan Pendahuluan

Sebelum auditor menentukan sifat dan luas pengujian yang harus dilakukan, auditor harus memahami bisnis auditi (kebijakan, struktur organisasi, dan praktik yang dilakukan). Setelah itu, analisis risiko audit merupakan bagian yang sangat penting. Ini meliputi review atas pengendalian intern. Dalam tahap ini, auditor juga mengidentifikasi aplikasi yang penting dan berusaha untuk memahami pengendalian terhadap transaksi yang diproses oleh aplikasi tersebut. pada tahap ini pula auditor dapat memutuskan apakah audit dapat diteruskan atau mengundurkan diri dari penugasan audit.  

 Tahap Pemeriksaan Rinci

Pada tahap ini auditnya berupaya mendapatkan informasi lebih mendalam untuk memahami pengendalian yang diterapkan dalam sistem komputer klien. Auditor harus dapat memperkirakan bahwa hasil audit pada akhirnya harus dapat dijadikan sebagai dasar untuk menilai apakah struktur pengendalian intern yang diterapkan dapat dipercaya atau tidak. Kuat atau tidaknya pengendalian tersebut akan menjadi dasar bagi auditor dalam menentukan langkah selanjutnya.

 Tahap Pengujian Kesesuaian

Dalam tahap ini, dilakukan pemeriksaan secara terinci saldo akun dan transaksi. Informasi yang digunakan berada dalam file data yang biasanya harus diambil menggunakan software CAATTs. Pendekatan basis data menggunakan CAATTs dan pengujian substantif untuk memeriksa integritas data. Dengan kata lain, CAATTs digunakan untuk mengambil data untuk mengetahui integritas dan keandalan data itu sendiri.

 Tahap Pengujian Kebenaran Bukti

Tujuan pada tahap pengujian kebenaran bukti adalah untuk mendapatkan bukti yang cukup kompeten,. Pada tahap ini, pengujian yang dilakukan adalah (Davis at.all. 1981) : Mengidentifikasi kesalahan dalam pemrosesan data  Menilai kualitas data  Mengidentifikasi ketidakkonsistenan data  Membandingkan data dengan perhitungan fisik  Konfirmasi data dengan sumber-sumber dari luar perusahaan.

Tahap Penilaian Secara Umum atas Hasil Pengujian

Pada tahap ini auditor diharapkan telah dapat memberikan penilaian apakah bukti yang diperoleh dapat atau tidak mendukung informasi yang diaudit. Hasil penilaian tersebut akan menjadi dasar bagi auditor untuk menyiapkan pendapatanya dalam laporan auditan. Auditor harus mengintegrasikan hasil proses dalam pendekatan audit yang diterapkan audit yang diterapkan. Audit meliputi struktur pengendalian intern yang diterapkan perusahaan, yang mencakup : 
(1) pengendalian umum, 
(2) pengendalian aplikasi, yang terdiri dari : 
(a) pengendalian secara manual.
(b) pengendalian terhadap output sistem informasi.
(c) pengendalian yang sudah diprogram.

Tujuan Audit SI

Pengamanan aset
Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, dan data harus dijaga dengan sistem pengendalian intern yang baik agar tidak ada penyalahgunaan aset perusahaan.

Efektifitas sistem
Efektifitas sistem informasi perusahaan memiliki peranan penting dalam proses pengmbilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut sudah dirancang dengan benar (doing the right thing), telah sesuai dengan kebutuhan user. Informasi yang dibutuhkan oleh para manajer dapat dipenuhi dengan baik.

Efisiensi sistem
Efisiensi menjadi sangat penting ketika sumber daya kapasitasnya terbatas. Jika cara kerja dari sistem aplikasi komputer menurun maka pihak manajemen harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memnuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal. Cara kerja sistem benar (doing thing right).

Ketersediaan (Availability)
Berhubungan dengan ketersediaan dukungan/layanan teknologi informasi (TI). TI hendaknya dapat mendukung secara kontinyu terhadap proses bisnis kegiatan perusahaan. Makin sering terjadi gangguan (system down) maka berarti tingkat ketersediaan sistem rendah.

Kerahasiaaan (Confidentiality)
Fokusnya ialah pada proteksi terhadap informasi dan supaya terlindungi dari akses dari pihak yang idak berwenang.

Kehandalan (Realibility)
Berhubungan dengan kesesuaian dan kekuratan bagi manajemen dalam pengolahan organisasi, pelaporan dan pertanggungjawaban.

Menjaga integritas data
Integritas data (data integrity) adalah salah satu konsep dasar sistem informasi. Data memiliki atribut-atribut seperti kelengkapan kebenaran dan keakuratan.

Wednesday, 22 November 2017

Menyusun Perencanaan Audit TSI

PERENCANAAN AUDIT

A. PENILAIAN RESIKO.

Perencanaan audit harus disusun dengan mempertimbangkan resiko yang dihadapi organisasi yang akan diauditnya. Dalam hal ini, auditor internal harus memanfaatkan output dari hasil penilaian resiko dalam perancangan program audit. Oleh karena itu, auditor perlu memahami proses berikut alat yang digunakan dalam penilaian resiko tersebut.
Yang dimaksud dengan penilaian resiko adalah kegiatan identifikasi dan analisis terhadap resiko yang relevan dalam upaya pencapaian tujuan organisasi sebagai dasar untuk menentukan cara pengelolaan resiko tersebut. Penilaian resiko tersebut penting untuk dilakukan sebab kondisi perekonomian, industri, regulasi, dan operasional organisasi terus berubah, perubahan tersebut meliputi:
  1. Adanya regulasi yang baru pada bidang perpajakan, ketenaga-kerjaan, ekspor-import,
  2. Masuknya kompetitor baru ke industri dimana perusahaan berada,
  3. Kompetitor mengenalkan produk baru, dan
  4. Penggunaan teknologi baru.
Dalam kerangka pengendalian internal, manajemen harus melakukan penilaian risiko yang dihadapi organisasinya, sehingga dapat menerapkan bentuk/ prosedur pengendalian yang tepat.
Auditor internal berkepentingan untuk menilai pengendalian yang ada pada aktivitas/ operasional organisasi, sehingga bila resiko teridentifikasi, maka auditor dapat menentukan prosedur pengendalian yang seharusnya ada untuk memastikan bahwa tujuan organisasi dapat tercapai, dan bila resiko tersebut tidak tertangani dengan baik, maka auditor dapat menentukan rekomendasi yang tepat bagi manajemen untuk memperbaiki pengendalian/ operasionalnya.
Lebih spesifik, dalam konteks audit keuangan, penilaian risiko berguna untuk menentukan resiko audit. Resiko audit diartikan sebagai tingkat ketidakpastian tertentu yang dapat diterima auditor dalam pelaksanaan auditnya, seperti ketidakpastian validitas dan reliabilitas bukti audit dan ketidakpastian mengenai efektivitas pengendalian internal. Umumnya resiko tersebut sulit diukur, sehingga perlu ketelitian dan kehati-hatian. Resiko audit terdiri atas resiko inheren/ bawaan, resiko pengendalian, dan pendeteksian.

1. Resiko Inheren
Resiko inheren berkenaan dengan  kemungkinan adanya kekeliruan dalam segmen audit yang melampaui batas toleransi sebelum memper-hitungkan faktor efektivitas pengendalian internal. Resiko inheren adalah faktor kerentanan laporan keuangan terhadap kekeliruan yang material dengan asumsi tidak adanya pengendalian internal. Oleh karena itu bila risiko inheren tinggi, maka auditor harus mengumpulkan bukti audit yang lebih banyak.
Faktor-faktor yang perlu ditelaah auditor dalam menetapkan risiko inheren adalah sifat bidang usaha organisasi, integritas manajemen, motivasi manajemen, hasil audit sebelumnya, hubungan istimewa, transaksi non rutin, dan kerentanan terhadap fraud.

2. Resiko Pengendalian
Risiko pengendalian berkenaan dengan kemungkinan adanya kekeliruan dalam segmen audit yang melampaui batas toleransi yang tidak terdeteksi atau tidak dapat dicegah oleh pengendalian internal. Resiko pengendalian dipengaruhi oleh faktor efektivitas pengendalian internal, dan keandalan penetapan risiko yang direncanakan (penetapan di bawah 100%), oleh karena itu bila resiko pengendalian ditetapkan tinggi, maka auditor harus mengumpulkan bukti audit yang lebih banyak.

3. Resiko Pendeteksian
Resiko pendeteksian berkenaan dengan kemungkinan terjadinya kekeliruan dalam segmen audit yang melampaui batas toleransi yang tidak terdeteksi karena pengujian menggunakan uji petik, prosedur audit yang tidak tepat/ salah aplikasi, kekeliruan interpretasi atas hasil implementasi prosedur audit. Guna meminimalkan risiko pendeteksian, auditor harus mengembangkan perencanaan audit secara tepat, dan melakukan supervisi atas pelaksanaan audit.
Konsep audit berbasis risiko menempatkan kegiatan observasi dan analisis terhadap pengendalian sebagai starting point, kemudian mengembangkan auditnya pada bidang/ area yang memerlukan pengujian dan evaluasi lebih lanjut. Bila pengendalian internal lemah (artinya risiko pengendalian tinggi), maka auditor cenderung untuk memperluas ruang lingkup auditnya, sehingga dia memperoleh kayakinan bahwa tanggungjawab auditnya dapat dilaksanakan sesuai dengan standar profesional yang berlaku.

B. PERENCANAAN AUDIT

1. Fungsi Perencana Audit
Sebelum melaksanakan pekerjaan audit, terlebih dahulu auditor internal harus menyusun rencana audit secara sistematis. Rencana audit tersebut berfungsi sebagai:
a. Pedoman pelaksanaan audit,
b. Dasar untuk menyusun anggaran,
c. Alat untuk memperoleh partisipasi manajemen,
d. Alat untuk menetapkan standar,
e. Alat pengendalian, dan
f. Bahan pertimbangan bagi akuntan publik yang diberi penugasan oleh perusahaan.

2. Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan
Hal yang harus dipertimbangkan oleh auditor dalam perencanaan audit adalah:
a. Masalah yang berkaitan dengan bisnis satuan usaha tersebut dan industri dimana satuan usaha tsb beroperasi didalamnya,
b. Kebijakan dan prosedur akuntansi satuan usaha tersebut,
c. Metode yang digunakan oleh satuan usaha tersebut dalam mengolah informasi akuntansi,
d. Penetapan tingkta resiko pengendalian yang direncanakan,
e. Pertimbangan awal tentang materialitas untuk tujuan audit,
f. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian.
g. kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit, dan
h. Sifat audit yang dilaporkan akan diserahkan kepada pemberi tugas.

3. Isi Perencanaan Audit
Isi audit plan (perencanaan audit) meliputi tiga hal pokok yang terdidi dari:
a. Hal-hal mengenai client,
b. Hal-hal yang mempengaruhi client, dan
c. Rencana kerja Auditor.

4. Metode Dalam Perencanaan Audit
Secara umum, rencana audit disusun setelah auditee ditetapkan. Yang dimaksud dengan auditee adalah entitas organisasi, atau bagian/ unit organisasi, atau operasi dan program termasuk proses, aktivitas dan kondisi tertentu yang diaudit. Penyeleksian auditeedapat dilakukan dengan 3 (tiga) metode, yaitu:
a. Systematic selection
Bagian audit internal menyusun suatu jadwal audit tahunan yang berkenaan dengan audit yang diperkirakan akan dilaksanakan. Secara tipikal jadwal tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan risiko. Auditee potensial yang menunjukkan tingkat risiko yang tinggi mendapat prioritas untuk dipilih.
b. Ad Hoc Audits
Metode ini digunakan dengan mempertimbangkan bahwa operasi tidak selalu berjalan tepat seperti yang direncanakan. Manajemen dan dewan komisaris sering menugaskan auditor internal untuk mengaudit bidang/ area fungsional tertentu yang dipandang bermasalah. Dengan demikian manajemen dan dewan komisaris memilih auditee bagi auditor internal.
c. Auditee Requests
Beberapa manajer merasa bahwa mereka memerlukan input dari auditor internal untuk mengevaluasi kelayakan dan keefektifan pengendalian internal serta pengaruhnya terhadap operasi yang berada di bawah supervisinya. Oleh karena itu, mereka mengajukan permintaan untuk diaudit. Tetapi dalam hal ini auditor internal tetap harus mempertimbangkan risiko dan prioritasnya.

5. Kegiatan Dalam Perencanaan Audit
Rencana audit harus disusun dan didokumentasikan dengan baik dan meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Penetapan tujuan dan ruang lingkup audit
Secara umum tujuan fungsi audit internal adalah untuk membantu manajemen dalam mencapai akuntabilitasnya dan memberikan solusi alternatif utnuk memperbaiki pengendalian manajemen. Secara individual, tujuan audit internal dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 (tiga) kategori aktivitas audit.
b. Review atas file audit
Review ini dilakukan dengan cara mempelajari kembali laporan-laporan dan informasi dari file audit yang telah dilakaukan sebelumnya. Review ini bermanfaat untuk mengenal sifat operasi sebagai bahan untuk melaksanakan survai pendahuluan.
c. Menyeleksi tim audit
Kegiatan ini dilakukan dengan mepertimbangkan beban tanggung-jawab yang akan dipikul oleh masing-masing staf auditor, dan keahlian yang diperlukan untuk mengaudit bidang-bidang tertentu.
d. Komunikasi pendahuluan dengan auditee dan pihak lain yang berkepentingan
Kegiatan ini dilakukan untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkenaan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Mengakomodasikan akses terhadap fasilitas, catatan dan personal, serta untuk memperoleh informasi dari auditee atau pihak lain yang terkait.
e. Mempersiapkan program audit pendahuluan
Program audit pendahuluan ini memuat informasi seperti sasaran dan tujuan, serta ruang lingkup audit, pertanyaan-pertanyaan khusus yang harus terjawab selama audit dilaksanakan, prosedur audit yang akan digunakan, dan bukti-bukti yang akan diuji.
f. Merencanakan laporan audit
Laporan audit merupakan media untuk mengkomunikasikan hasil audit kepada pihak-pihak yang berkepentingan dlam organisasi. Konsekuensinya, auditor harus mulai berfikir mengenai bagaimana laporan akan disusun, kapan akan diberikan/ dikirimkan, dan siapa yang akan menerima laporan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi detail (rincian) yang akan disajikan dalam laporan dan untuk mengembangkan beberapa parameter dasar.
g. Persetujuan atas program audit dari kepala bagian audit internal
Hal ini dilakukan untuk membantu memastikan bahwa prosedur kerja mendukung tujuan, sasaran, dan ruang lingkup audit.